Ketika Hafalan Diuji #3
“apa kamu ingin sembuh, Din?.”, El bertanya dengan penuh iba.
“ya, aku ingin sembuh, El, tolong bantu aku El..”, setengah menangis Din menjawab.
“Insya Allah Din, aku bantu semampuku, afwan (maaf) aku lancang menanyakan hal ini kepadamu.”
“tidak apa El.. maafkan aku yang sudah tidak sopan terhadapmu waktu itu, rasanya lebih baik aku mati saja.”
“sudah kawan. Aku sudah memaafkanmu. Dan sudahlah jangan menangis, kamu ini laki-laki, ayo bangkit dan jangan menangis seperti itu. Aku janji akan membantu hingga kau normal”. El tersenyum tegas sambil menatap Din yang terisak.
…………………………………………………………………………………………………………………………..
“ada apa dengan Din? Mengapa sekarang dia berubah? Apa dia lupa dengan Allah?”. Teriak si San dengan penuh rasa kesal.
“hey San... kalau aku tahu tidak mungkin aku mengumpulkan kalian semua di sini”. Jawab Ryo ketus.
“Astaghfirullah.. sudah.. sudah.. jangan menambah suasana makin kacau dasar ikhwan-ikhwan tidak bisa menjaga emosi. Coba tenang sedikit.”, Mis mencoba menetralkan suasana.
“tenang kawan. Ini hanya masalah yang biasa terjadi, ini hanya masalah virus merah jambu yang menimpa Din. Kita pasti bisa menyelesaikannya. Kalau boleh jujur aku juga kesal, tapi tenanglah.”
“iya tenang, tapi bagaimana cara menyelesaikannya kas?.”, Tanya San dengan nada tinggi.
“apa kau ada ide El?”, tanya Kas.
Den, Kas, El, San, Ryo, Din, & Mis teman dekat yang selalu bersama dalam setiap kegiatan di Kampus. Awal pertemuan mereka terjadi ketika lembaga dakwah kampus mengadakan acara untuk mahasiswa baru. Semenjak pertemuan pertama di Masjid kampus itu, mereka menjadi akrab dan aktif mengikuti kegiatan-kegiatan dakwah kampus, bahkan sering terjun langsung untuk menjadi panitia dalam acara-acara dakwah kampus. Selama dua tahun pertemanan mereka tidak ada hal yang mengganggu atau membuat keretakan diantara mereka, hanya pertengkaran atau perdebatan kecil biasa saja bahkan konyol. Berdebat dalam hal kepanitiaan, meributkan masalah pelajaran, berebutan motor untuk menumpangi sepeda motor San, berebutan makanan, banyak sekali hal konyol yang wajar mereka lakukan. Dan itu semua bumbu yang mempererat hubungan persaudaraan diantara mereka walaupun mereka berbeda fakultas dan tidak pernah saling kenal sebelumnya.
Mereka terus tumbuh dan berkembang menjadi aktivis dakwah kampus yang hebat, mereka berprestasi, banyak posisi penting di dalam organisasi dan kepanitiaan mereka yang menempati, IPk selalu cum laude, banyak yang mengenal mereka, entah sudah berapa konferensi tingkat Internasional yang mereka hadiri di berbagai Negara, banyak hadiah yang mereka dapat dari lomba-lomba yang mereka ikuti. Seolah diantara mereka tidak ada yang mau kalah dalam hal prestasi dan organisasi.
Tahun kedua mereka di kampus menjadi hari-hari yang berat dalam hubungan pertemanan yang mereka jalin. Din mulai berubah. Din dekat dengan seorang wanita, bernama Ri. Entah apa yang membuat Din menjadi seperti itu, bukan sekadar hubungan biasa, orang-orang yang melihat mereka pasti akan mengira mereka berdua memilik hubungan spesial. Semua teman dekat Din berusaha mencari tahu apa penyebabnya. Mis yang seorang akhwat sudah berusaha mendekati Ri untuk mencari tahu dan mengingatkan Ri agar tidak dekat dengan Din. Mis berusaha meyakinkan bahwa Mis tidak ingin Din dan Ri berdosa kepada Allah.
………………………………………………………………………………………………….
“biarkan saja Din seperti itu.”, jawab El.
“apa maksdumu El? Aku tidak terima kamu bicara seperti itu, mengapa harus dibiarkan? kita ini sahabat Din, bukan?”, teriak Ryo kepada El.
“El.. kenapa El?”, Tanya Mis dengan kaget.
El terdiam, forum mendadak diam. Semua menanti jawaban El.
“aku tidak tahu. Aku pikir itu baik untuk Din.”
“hey El.. baik dimananya El ?! apa maksudmu?!”, tanya San sambil mengepalkan tangan.
“aku tidak tahu, San.”
“El.. ada yang kamu sembunyikan, ya?”, Tanya Mis.
------------------------------------------------------------------------
El orang yang paling dekat dengan Din. El yang pertama tahu ketika Din mempunyai masalah.El yang paling sering membantu Din ketika ada masalah. Mereka satu kelompok dalam pengajian halaqah. Hampir setiap hari mereka selalu berangkat bersama ke kampus. Suatu hari El melihat ada yang berbeda dari Din. El merasa Din memiliki kelainan, yaitu Din menyukai sesama jenis. Bukan tanpa bukti El berkesimpulan seperti ini. El selalu menyelidiki gelagat Din yang aneh. Pernah suatu malam Din menginap di kosan El. Pada malam harinya menjelang tidur El dan Din saling bercerita tentang masalah di kampus yang belakangan terjadi. Obrolan mereka hangat sehingga membuat keduanya tertidur. Ketika tidur El merasa ada yang memeluk dan menyentuh bagian kemaluannya. Setengah tersadar El, agak aneh, El dalam keadaan pura-pura tidur yakin bahwa yang melakukan itu adalah Din. El tidak ingin terbangun begitu saja, ia tidak ingin mengagetkan Din. Sambil terus beristighfar dalam hati, tidak lama kemudian alarm Hp yang biasa membangunkan El Qiyamul Lail berbunyi kencang. Din kaget dan menyudahi prilaku tidak biasa tersebut, ini kesempatan bagi El untuk bangun. El hanya bisa beristighfar dalam hati dan berpura-pura seolah tidak terjadi apa-apa. El segera tahajud tanpa mengajak Din yang mungkin pura-pura tertidur.
El masih tidak menyangka atas kejadian malam itu. Ia hanya bisa terdiam dan bersedih atas prilaku Din atas dirinya. Tanpa sengaja El melihat pembicaraan aneh Din dengan seseorang yang ia panggil ‘Mas-ku sayang’ ketika Din meminjam notebook El untuk membuka jejaring sosial yang lupa ia log out.
El berusaha memperbaiki perasaan dan prasangkanya yang kacau. Ia berusaha mencari tahu sebab Din menjadi seperti itu. Dia teringat kisah umat nabi Luth yang diazab dengan dilempari batu panas dan dijungkirbalikan negara beserta penduduknya sebagaimana terbaliknya telur di atas penggorengan.
Dan (ingatlah kisah) Luth, ketika dia berkata kepada kaumnya: "Mengapa kamu mengerjakan perbuatan fahisyah itu, sedang kamu memperlihatkan(nya)?"
"Mengapa kamu mendatangi laki-laki untuk (memenuhi) nafsu (mu), bukan (mendatangi) wanita? Sebenarnya kamu adalah kaum yang tidak mengetahui (akibat perbuatanmu)."
Maka tidak lain jawaban kaumnya melainkan mengatakan: "Usirlah Luth beserta keluarganya dari negerimu; karena sesungguhnya mereka itu orang-orang yang (menda'wakan dirinya) bersih."
Maka Kami selamatkan dia beserta keluarganya, kecuali isterinya. Kami telah mentakdirkan dia termasuk orang-orang yang tertinggal (dibinasakan).
Dan Kami turunkan hujan atas mereka (hujan batu), maka amat buruklah hujan yang ditimpakan atas orang-orang yang diberi peringatan itu.
(Q.S. An-Naml : 54-58)
Dan (ingatlah) ketika Luth berkata pepada kaumnya: "Sesungguhnya kamu benar-benar mengerjakan perbuatan yang amat keji yang belum pernah dikerjakan oleh seorangpun dari umat-umat sebelum kamu.”
Apakah sesungguhnya kamu patut mendatangi laki-laki, menyamun dan mengerjakan kemungkaran di tempat-tempat pertemuanmu? Maka jawaban kaumnya tidak lain hanya mengatakan: "Datangkanlah kepada kami azab Allah, jika kamu termasuk orang-orang yang benar."
Luth berdoa: "Ya Tuhanku, tolonglah aku (dengan menimpakan azab) atas kaum yang berbuat kerusakan itu."
Dan tatkala utusan Kami (para malaikat) datang kepada Ibrahim membawa kabar gembira, mereka mengatakan: "Sesungguhnya kami akan menghancurkan penduduk negeri (Sodom) ini; sesungguhnya penduduknya adalah orang-orang yang zalim."
Berkata Ibrahim: "Sesungguhnya di kota itu ada Luth." Para malaikat berkata: "Kami lebih mengetahui siapa yang ada di kota itu. Kami sungguh-sungguh akan menyelamatkan dia dan pengikut-pengikutnya kecuali isterinya. Dia adalah termasuk orang-orang yang tertinggal (dibinasakan).
Dan tatkala datang utusan-utusan Kami (para malaikat) itu kepada Luth, dia merasa susah karena (kedatangan) mereka, dan (merasa) tidak punya kekuatan untuk melindungi mereka dan mereka berkata: "Janganlah kamu takut dan jangan (pula) susah. Sesungguhnya kami akan menyelamatkan kamu dan pengikut-pengikutmu, kecuali isterimu, dia adalah termasuk orang-orang yang tertinggal (dibinasakan)."
Sesungguhnya Kami akan menurunkan azab dari langit atas penduduk kota ini karena mereka berbuat fasik.
Dan sesungguhnya Kami tinggalkan daripadanya satu tanda yang nyata bagi orang-orang yang berakal.
(Q.S. Al-Ankabut : 28-35)
El seminggu terbaring sakit di kamar kos-an dan bertanya ke banyak ustadz menanyakan tentang masalah Din melalui sms, telepon, dan e-mail. Akhirnya, El memberanikan diri untuk bertanya langsung kepada Din. El sudah punya sedikit jawaban untuk mengatasi masalah Din yang dia dapat dari Ustadz, Psikolog, dan buku. Pada suatu sore El mengajak Din bertemu di perpustakaan kampus untuk menanyakan perbuatan Din yang diperbuat seminggu lalu.
“El.. ada apa aku disuruh datang ke sini? Sepertinya ada yang penting.”
“ya ada..”, jawab El dengan santai.
“ada apa ya?”
“aku hanya mau tanya satu hal, Din. Tolong kamu jawab jujur. Kamu tahu kan kalau berbohong itu tidak pernah bawa keuntungan. Jujurlah walau itu sangat menyakitkan.”
“apa El? Kayaknya serem banget si.”, jawab Din dengan gemulai.
“kamu punya kelainan sex ya? Kamu suka sesama jenis?”
Din terkejut, diam, dan matanya mulai berkaca-kaca, kebingungan harus menjawab apa. Selama ini El adalah teman yang baik dan selalu membantu Din dalam segala masalah. Kali ini perasaan Din benar-benar berbenturan dengan kenyataan. Din juga tidak mengerti terhadap dirinya yang mempunyai kelainan sexual , tersiksa rasanya jika harus berbohong terhadap El.
“kenapa kamu bisa bicara begitu El?.”, tanya Din dengan sedikit menenggak ludah.
“aku melihat beberapa keanehan yang kamu lakukan.”
“keanehan apa??”, tanya Din sambil mengangis.
“kamu ingat ketika meminjam notebook-ku saat menginap di kosan-ku minggu lalu, kamu lupa logout akun YM kamu, Din. Maaf mungkin tidak sopan melihat, tapi itu tidak sengaja lho. Aku membaca chat box kamu dengan seorang laki-laki, Din. Tenang saja, Din. Aku tidak membocorkan hal ini ke siapa-pun. Entah selama ini aku salah dimana sebagai teman-mu sehingga aku juga jadi korban atas perlakuanmu. Kemana materi pengajian yang selama ini kamu catat? Apa harus aku bacakan kepadamu kisah tentang kaum Nabi Luth yang tidak ber-akal? Umat yang tidak tahan dengan bisikan setan.”
Din hanya bisa terdiam dan mengeluarkan air mata.
“maafkan aku, El.”, sambil terisak.
“apa yang membuatmu melakukan itu kawan?”, Tanya El sambil menenangkan Din.
“aku tidak tahu El. Aku bingung. Entah mengapa aku melakukan itu.
“apa kamu sudah lama seperti ini?.”
“iya El.”
“kawan.. mengapa engkau tidak tahu? Aku pikir kamu terlalu mengikuti perasaanmu sehingga kamu tidak tahu jawabannya. Gunakan akal-mu kawan, bukankah IPk-mu sampai hari ini hampir 4,00, lebih tinggi dibandingkan aku, Din?!.”
“aku tidak tahu, El.”
“baiklah.. mungkin aku belum mendapatkan alas an yang jelas mengapa kamu begitu. Aku hanya tahu syahwat itu bisa dikendalikan, dan apa yang kamu lakukan menentang fitrah-mu sebagai laki-laki. Mungkin ini yang namanya ketika akal tidak dapat menguasai perasaan. Aku yakin kamu pasti bisa menyukai lawan jenis.”
.......................................................................................
Mis terus saja mendesak El yang tersenyum-senyum sendiri. Mis merasa ada yang disembunyikan El. Di sisi lain El merasa senang ketika Din bisa dekat dengan lawan jenis, ada sedikit perkembangan dari Din yang selama ini memiliki kelainan sexual. Mis dan teman-teman yang ada di forum terus mendesak El.
“El.. tolong El jawab! Ada apa sebenarnya.”
“baiklah.. tolong kalian jaga rahasia ini dan jangan kaget!”, El memberontak.
“iya.. apa?”, Tanya San dan Ryo.
“Din itu sebenarnya homo.”
“asstaghfirullahaladziim… naudzubillah.”
Serentak semuanya kaget kecuali Mis yang hanya terdiam lalu menangis mendengar kabar itu. El menjelaskan dan menceritakan masalah Din. El berharap semuanya bisa membantu Din untuk sembuh. Bagi El menyukai sesama jenis bukanlah hal yang tanpa disengaja bisa terjadi, semua terjadi karena lingkungan, pengetahuan, kebiasaan, dan yang paling penting tidak adanya keimanan di dalam hati. Syahwat bagi El sesuatu yang bisa diatur, apa iya syahwat bisa muncul ketika melihat orang gila di tengah jalan yang tidak berbusana atau melihat wanita cantik yang mati gantung diri tanpa busana di mal? Tentu saja bisa, tetapi akal kita bisa menahannya, akal berbicara bahwa itu orang gila dan itu wanita yang sudah mati, hati juga ikut tergerak dan berbicara orang gila harus diselamatkan dan mayat wanita harus ditolong. El yakin bahwa suka sesama jenis bisa disembuhkan, keberadaan mereka harus diselamatkan bukan disalahkan. Bukankah Nabi Luth berusaha mengingatkan umatnya terlebih dahulu sebelum turun azab dari Allah untuk umatnya?. El optimis bahwa Din akan sembuh, sementara Kas, San, Ryo, dan Mis masih berusaha menahan kesedihan yang mereka rasa karena masih belum terima keadaan Din yang di luar dugaan mereka.
Wallahu’alambishawab.
Diangkat dari kisah nyata.
1 komentar:
Posting Komentar