Ahlan wa sahlan bihudurikum... mohon tinggalkan jejak anda, syukran... :)

Minggu, 30 Oktober 2011

Ketika Hafalan Diuji #2

“Banjir.. Banjir.. air masuk ke rumah.”

Aku terbangun saat mendengar teriakan seorang teman satu rumah di tempatku tinggal, teriakannya terlalu berlebihan seperti orang melihat maling yang membawa kabur jemuran-jemurannya, aku sangat terganggu. Jarang sekali bisa menikmati tidur siang dalam suasana hujan, enak sekali tentunya. Allah selalu punya cara untuk menegur hamba-hambanya, ketika teriakan itu ku dengar ternyata bertepatan dengan adzan ashar, baiklah lupakan teriakan itu Allah masih sayang terhadap-ku ini waktunya sholat ashar.

Dengan kondisi setengah sadar dan setengah tidak percaya kalau tempat ini kebanjiran aku beranjak keluar kamar dan melihat keluar, masya Allah, benar.. ini air bah. Semua sibuk dan akupun sibuk, semua mengeluarkan air yang masuk ke dalam rumah, teras bagian depan dan samping telah dikepung oleh air, hampir selutut. Kami berusaha menahan air dari pintu samping terlebih dahulu, dengan mengumpulkan beberapa kain bekas kami menutup pintu dan menahannya dengan kain bekas, untuk sementara aman. Akhirnya kami putuskan sholat ashar sore itu dibagi menjadi dua kloter, ini strategi awal, kloter pertama dipersilahkan sholat lebih awal dan sisanya menjaga pintu agar air tidak masuk. Ternyata hujan semakin besar, teman-teman kloter kedua kesusahan menahan air, teman-teman di kloter pertama telah selesai sholat melihat keadaan itu semua makin bersemangat, bersemangat untuk main air. He..

“woy mantap woy.” Ujar Kholid seorang teman dari Solo yang logat jawannya masih kental, medok.

“akhirnya ane mandi ujan juga bang, ane gak boleh mandi hujan dari kecil, ane siap-siap dulu deh.” Kata Rendy dengan aksen setengah Minang setengah Batak kepada-ku.

Teman-teman kloter kedua kewalahan menahan air perjuangannya luar biasa, sampai basah kuyup, akhirnya mereka berinisiatif untuk mengambil ember sebanyak-banyaknya dan mengajak teman-teman kloter pertama untuk mengeluarkan air ke luar pagar.

“ayo.. akh.. kita sedang berperang ini.”, kata Syamsudin seorang komando perang melawan air dibawah hujan sore itu.

iya akh.. ini tidak boleh dibiarkan.”, itulah yang dikatakan Ustadz Izhar al-Hafizh dia-pun melanjutkan membuang air.

“Allahu Akbar!!!.”, semua teman-temanpun takbir dan turun untuk mengeluarkan air dari teras, jujur aku ingin tertawa sekencang-kencangnya, harus sampai berlebihan seperti itukah untuk menyemangati kami agar bisa mengatasi banjir?, tapi rasa tertawa itu tertahan karena melihat semangat kawan-kawan yang luar biasa ingin main air. He..

“Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (Q.S. Al-Baqarah : 216)

Terpikir mungkin inilah perang, suasananya kadang memaksa kita untuk memilih ikut atau tidak, sama hal-nya seperti dakwah tidak semua orang bisa bertahan di jalan dakwah hingga akhirnya banyak yang memilih mundur atau mencari tempat lain yang lebih nyaman dan sedikit resiko. Oke, bukan berarti bermaksud untuk provokatif terhadap kata ‘perang’ itu sendiri, ini hanya analogi ingin memilih basah atau tidak basah.

“Allahu Akbar!! Kita harus selamatkan tempat tinggal kita dari banjir.”

“Allahu Akbar!!.”, Semua bertakbir dan mengangkat senjata mereka masing-masing.

Semua bersemangat membuang air ke luar dari genangan dengan senjatanya, ada yang menggunakan ember, gayung, nampan, bahkan gelas. Ada orang lewat yang melihat kami sampai geleng-geleng kepala dan tersenyum entah kenapa, mungkin kami hampir disangka gila di bawah guyuran hujan deras teriak-teriak seperti bocah sedang mandi bola. Haha.. tak apa ini kesempatan untuk ber-ekspresi. Belum selesai genangan air di teras samping teratasi air pun menyerang melalu teras depan hingga masuk ke kamar para ustadz. Akhirnya kami mengatur strategi kembali.

“akh.. kita bagi jadi tiga pasukan aja, antum jaga teras depan, antum jaga di sini teras samping, dan sisanya bikin parit.”, akhirnya strategi perang khandaq digunakan, kali ini Imin yang mempunyai ide.

“oke akh… coba akh syam antum pinjem linggis dan palu ke tetangga sebelah untuk bikin parit.”

“siap ustadz..”, Syamsudin pun berlari di bawah derasnya hujan ke rumah tetangga untuk meminta bantuan berupa tambahan logistik senjata.

Pasukan khandaq, para pembuat parit, Imin, Syamsudin, Ust. Izhar, Iqbal, Irfan, Rendy, dan Kholid. Aku kebagian untuk menjaga teras depan, entah sudah berapa korban yang berjatuhan karena kehilangan sandal yang ada di teras depan hanyut dibawa air. Semua terus berusaha menjaga pos pertahanannya masing-masing. Air pun mulai berkurang, saatnya untuk membersihkan bagian dalam yang basah terserang banjir. Alhamdulillah, hujan mulai mereda ruangan depan dan samping sudah bersih dan kering, tetapi pasukan khandaq masih berjuang membuat parit, subhanallah. Tak ada salahnya kalau aku membuat sedikit penghangat badan untuk orang-orang yang sudah berjuang menjaga barak para penghafal al-Quran di sini, Rumah al-Quran UI, aku pun meminta bantuan ke beberapa teman untuk menyiapkan teh hangat dan tiba-tiba Syamsudin yang masih basah masuk ke dapur membawa se-kardus mi instan.

“tolong di masak akh.. ini untuk semua, kami kelelahan sepertinya.”, dengan gaya komandan dia berbicara kepadaku.

Sore itu sangat seru, akhirnya semua beristirahat dan bersih-bersih, bersama-sama kami menikmati hidangan sederhana yang dibuat oleh pasukan teras depan.

Tidak salah jika ada orang yang berkata ia mencintai hujan karena memang hujan membawa banyak keberkahan jika disyukuri. Allah selalu punya cara untuk mempersatukan dan memperbaharui kegaringan ukhuwah diantara kita, asal hati kita terbuka untuk menerima dan berlapang terhadap semua keadaan yang Allah berikan. Sore itu hujan menjadi media untuk memberbaharui ukhuwah yang selama ini jarang digunakan untuk beramal jama’i, itulah keadaan yang Allah berikan. Ya Allah.. bantulah kami agar bisa mengahafal mengamalkan ayat-ayat Mu.

Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliah) bermusuh musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu daripadanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk. (Q.S. Al-Imran : 103).

Uhibbukumfillah akhi..^,^v

0 komentar:

Posting Komentar