Dakwah,Islam,Kontemplasi,Rumah al-Quran
No comments
Spirit al-Quran di malam itikaf
Itikaf Ramadhan 1432 Hijriah
Senang rasanya bisa berbagi dengan yang lain dan tetap bisa fokus beribadah kepada Allah.
Itikaf ramadhan tahun ini sedikit berbeda dari itikaf tahun-tahun sebelumnya, ya berbeda karena tahun ini harus menjadi bagian dari orang yang sibuk membantu itikaf di Masjid Baitul Ihsan, Bank Indonesia.
Tiba di sana ketika malam ke-21 Ramadhan hari Sabtu tanggal 20 Agustus, berangkat bareng bertiga dengan teman ikhwan takhasus (orang yang fokus hanya menghafal al-Quran) dari RQ UI dari Depok naik KRL. Penuh, itu yang ane rasakan ketika sudah sampai disana, banyak pemandangan di luar dan di luar masjid yang membuat ibadah menjadi tidak fokus, ada suami yang membawa istri dan anak-anaknya, ada pengantin baru yang juga ikut beritikaf, teriakan bocah disana-sini, bahkan suami istri ada yang mojok lho.. risih (pengen), gaduh (iri)…
sempat berpikir mengundurkan diri untuk mengurus itikaf di masjid ini dan pindah mencari masjid lain yang lebih tenang, tapi semua pikiran itu berubah setelah ane masuk ke dalam masjid BI yang AC-nya dingin banget boy.. setidaknya itikaf disini bisa mengurangi kemungkinan malaria/DBD lebih besar dibanding di masjid lain yang open the bentol (terbuka gak punya pintu & banyak nyamuk). Ternyata gak kalah dari pemandangan di luar masjid yang membuat ane risih (pengen,iri) di dalam masjid ane juga banyak melihat pemandangan yang membuat ane takjub di setiap sudut banyak orang tua yang sudah beruban sampe jenggot-jenggot yang semangatnya terlihat dari tas yang mereka bawa besar-besar yang menandakan akan itikaf full 10 hari. Ditengah ramainya masjid itu para orang tua tadi tetap bisa fokus beribadah, ada yang tilawah, ada bocah yang ikut orang tuanya tilawah, ada yang diskusi gaya orang tua, ada yang sholat sunnah, ada juga yang tidur si.. iri dengan semangat mereka.. kok bisa si ramai begini tetap fokus.. akhirnya ane putuskan “baiklah ane akan hadapi tantangan suasana yang ramai ini” pake gaya orang tua yang udah jenggotan ngomong ke teman sebelah ane.
intinya atmosfer antara di luar dan di dalem masjid beda banget deh..
minggu pagi 21 Ramadhan, 21 Agustus..
setelah malamnya QL 3 juz.. paginya jama’ah itikaf pada tepar, tidur, ngiler padahal jam 9.00 harus ada pembukaan tahsin Al-Quran, tapi masih pada tidur..
akhirnya jam 08.00 diingetin lewat microphone masjid, mulai banyak yang bangun, akhirnya himbauan yang ane ucapin lewat microphone membangunkan mereka, terharu ane, ternyata suara ane masih indah untuk membangunkan orang yang tertidur pulas. Hiks…
akhirnya pembukaan tahsin dibuka jam 09.03, seperti biasanya karena kekurangan panitia ikhwan dari RQ UI untuk mengurus tahsin ini akhirnya mau gak mau ane harus jadi MC (lagi), banyangin coba penderitaan ane yang kebingungan mencari arah hidup untuk mengurus pembukaan tahsin. Ustd. Fadlyl, Mudir RQ, hari itu lagi di Palembang dan bala bantuan dari RQ UI juga belum datang. Banyangin kebingunan ane saat itu harus gimana.. Alhamdulillah ada Ust. Anto & Ust. Izhar yang bantu pembukaan tahsin hari itu. Hari itu Ustadz Anto yang jadi pemateri pembukaan tahsin, ane pikir waktu itu hanya sedikit yang tertarik dengan materi tahsin al-Quran ternyata peserta yang ikut hari itu mematahkan prasangka ane walau yang ikut lebih banyak orang tua sepuh. Cukup banyak yang ikut materi tahsin walau gak sebanyak peserta itikaf yang ikut malam-malam ganjil aja, setidaknya jumlah peserta membuat ane senang lah, ternyata semangat memperbaiki bacaan al-Quran masih cukup tinggi. Materi dari Ustad Anto hari itu menerangkan tentang permasalahan dalam tilawah al-Quran secara umum, masalahnya yaitu :
Mad & Qashr (panjang pendek)
Qolqolah
Gunnah (dengung)
Irama
Nah.. itu tadi sesi tahsin jama’i, ba’da dzuhur diadakan tahsin halaqah dimana para peserta itikaf membentuk kelompok-kelompok kecil untuk mempelajari tahsin lebih mendalam lagi dengan para musryif/ah (pembimbing tahsin). Subhanallah, di ikhwan terbentuk tiga kelompok yang jumlahnya 15-20 orang per kelompoknya kalau di akhwat kurang tau berapa. Kekurangan SDM guru tahsin itu yang membuat ane pusing karena ane gak mau sampe jadi guru tahsin, malu, ane belum siap, ane sendiri aja masih banyak yang harus dikoreksi bacaanya, intinya ane kurang PD karena harus menghadapi orang-orang yang lebih tua dari ane. Akhirnya, mau gak mau ane pun jadi orang yang berbagi ilmu tahsin (musyrif) untuk bapak-bapak, mas-mas, dan adik-adik yang ada di halaqah ane saat itu. Ternyata antusias jama’ah terhadap tahsin al-Quran bertambah terus setiap hari hingga jadi lima kelompok.
Materi pertama, yaitu masalah mad ane berikan untuk kelompok halaqah ane, sedikit ane jelaskan tentang mad tabi’i, mad jaiz, mad wajib, dan mad layn. Ya, semua mengerti dan peserta langsung mau praktik dan minta di chek tapi sebelum praktik ane putuskan untuk memperbaiki bacaan al-fatihah dahulu baru setelah itu parktik materi, semuapun setuju.
Kelompok halaqah ane agak unik ada yang tua yang semangat sekali,remaja labil, anak belum baligh, dan ada orang cacat tangan, tapi semua terlihat mempunyai senyum yang sama yaitu senyum semangat untuk belajar. Awalnya ketika me-ngechek bacaan mereka ane agak gak enak kalau ngoreksi orang tua yang rambutnya agak putih takut nyalah-nyalahin orang tua,takut kualat gitu.. he.. tapi ternyata mereka lebih senang kalau dikoreksi dan diberitahu yang benar seperti apa, makin banyak salah mereka semakin banyak bertanya, ketika proses mentransfer ilmu ini ada perasaan yang belum pernah ane rasakan sebelumnya yaitu perasaan bahagia mengajarkan al-Quran, ada kenikmatan tersendiri ketika pengetahuan yang kita berikan dipraktikan langsung dengan orang yang kita ajar, spirit bahagia melihat ternyata masih banyak orang yang peduli dengan ilmu membaca al-Quran dengan benar. Setiap hari selama itikaf terus seperti itu berbagi, berbagi, dan berbagi, berbagi tentang ilmu membaca al-Quran. Sempat kikuk karena ada orang tua yang memanggil ane ‘ustadz’ dan orang tua itu banyak bertanya tentang tanda waqaf dan makharijul huruf. Bahkan setiap kita berjalan kemana-pun di sekitar masjid BI rasanya bahagia karena selalu ada saja orang yang tersenyum ketika melihat kita bahkan lagi-lagi banyak yang memanggil ‘ustadz’, sebuah gelar yang belum pantas disandingkan dengan nama ane. Huhf..
Menjelang itikaf berakhir ada sekumpulan kakek-kakek di depan pintu masuk masjid yang sedang ngobrol dan sedikit berkonsultan tentang poligami dengan ane, ane tiba-tiba kaku boy.. nikah aja belom ini nanya pendapat ane tentang poligami. Ane hanya bilang, “yang saya tahu pak, Rasulullah menikah lagi setelah Khadijah meninggal, yang saya tau Rasulullah itu sangat cinta dengan istri pertamanya.. he.. saya aja belom nikah pak, bingung saya ditanya begini…”
Adalagi orang tua yang menyesal bertanya sama ane karena selama ini merasa bacaan al-Quran-nya sudah baik sambil menangis dia bercerita, “saya udah punya cucu, saya pikir saya sudah bagus bacanya, ternyata pas ustadz chek, masya Allah, astaghfirullah. Saya dosa gak ya ustadz??” (hubunganya sudah punya cucu dengan bacaan Quran apa deh?!)
Ada anak muda yang mungkin sebaya dengan ane juga selalu minta dikoreksi padahal dia sudah ikut tahsin di tempat lain dan bacaanya sudah bagus, mungkin semangatnya melebihi semangat ane untuk berbagi. Pastinya melihat ia semangat begitu ane juga gak mau kalah dong.
Ketika penutupan tahsin hari minggu tanggal 28 Agustus, ada sesi meminta testimoni kepada jama’ah atas program tahsin yang sebentar ini, ada seorang kakek yang meminta tahsin ini tetap dilanjutkan, ada juga seorang nenek yang member testimoni bahwa dia menyesal selama ini bacaan al-Quran-nya belum baik, padahal dia kira sudah cukup baik, nenek merasa hidupnya terlewati sia-sia dan memberikan pesan kepada yang muda jangan sampai menyesal seperti itu nenek. Hmm.. semua testimoni positif.
Semangat al-Quran terus tumbuh menjamur begitulah cara Allah menjaga kitab-Nya, jika tidak yang muda yang tua-pun siap menggantikanya.
Sesungguhnya Kami telah menurunkan Al-Quran, dan Kami tentu menjaganya. (QS 15:9)
Spiritnya tidak akan mati sampai nanti hari kiamat, tidak bisa bohong bahwa al-Quran juga berperan besar atas peradaban sampai hari ini, proyek peradaban yang tidak pernah berhenti sejak diturunkannya pertama kali. Semoga kita bisa menjadi bagian dari megaproyek peradaban ini, penuh perdamaian dan kemaslahatan.. jadi, jangan pernah ragu untuk menyisakan waktu untuk menumpahkan cinta kepada Allah dengan berdzikir kepada-Nya karena sebaik-baiknya dzikir adalah dengan membaca al-Quran.
Wallahu’alam bishawab.
0 komentar:
Posting Komentar