Kontemplasi,Ukhuwah
No comments
Ukhuwah yang bagaimana kita?
Seorang anak bertanya, “Ibu kenapa kita tidak memiliki cermin yang besar bu?”
Ibu menjawabnya, “memang kenapa dit? Apa ada yang salah dengan cermin yang kita punya?”
Sang anak berjalan ke arah meja untuk mengambil cermin yang berdiameter 25 cm disudut ruangan tempat mereka berbicara.
“tidak salah sih bu.. tapi teman – teman didit memiliki cermin yang sangat besar. Besaaaaaaaarr sekali.”
“memang sebesar apa sih nak?”
“besarnya sebesar badan ibu mungkin, kalau kita bercermin kita dapat melihat seluruh tubuh kita bu.. tapi kalau cermin yang kita punya ini hanya cukup melihat wajah saja, paling hanya digunakan ketika hendak menyisir rambut.” Sambil sedikit-sedikit si anak melihat ke arah cermin.
“oh.. begitu.” Si ibu tersenyum.
“didit ingin sekali memiliki cermin yang besar, sama seperti teman-teman yang lain agar didit bisa bercermin dan melihat seluruh tubuh didit dari cermin. Belikan ya bu.. hehe.” Anak tertawa malu karena meminta cermin kepada ibunya.
“iya dit.. nanti ibu tanyakan dulu dengan ayah ya.. ibu juga merasa kita butuh cermin yang besar.”
...............................................
Seminggu kemudian di hari minggu cermin yang besar itu datang, sang anakpun merasa sangat senang.
“ibu ayah.. terima kasih ya.. didit jadi bisa ngaca tiap hari deh.” Sambil jingkrak kegirangan didepan ayah dan ibu.
“iya dit.. coba liat dari kaca, didit ganteng kaya ayah gak?” ayah senang melihat didit bahagia sekali.
“iya dong yah.. gantengan didit lah daripada ayah.” Sambil tertawa tidak mau kalah dari ayahnya.
“sudah.. sudah.. jagoan-jagoan ibu, sekarang kita makan siang dulu yuk.. ibu sudah masak makanan enak-enak tuh.”
Minggu siang yang penuh dengan suasana kehangatan keluarga.
....................................................................
Hingga pada suatu hari cermin itu pecah karena kecerobohan didit yang bermain sepak bola dengan adiknya yang masih kecil di dalam rumah.
Pprrrraaaaaaaangg......
“suara apa itu dit?” ibu berteriak dari dapur.
Ibu berjalan ke arah sumber suara dan ibu melihat didit diam melihat ke arah pecahan cermin itu.
“dit... ada apa?”
“maafin didit bu.. tadi didit nendang bola terus terpantul ke arah cermin, didit gak sengaja bu.” Mata didit berkaca-kaca menahan tangis dan takut.
“ya sudah.. nanti kita perbaiki cerminnya, sekarang bantu ibu membersihkan pecahan cerminya bahaya ini, pindahkan dulu adik kamu ke kamar ya dit.”
“baik bu.. .”
Setelah pecahan-pecahan kecil dibersihkan, sang ibu berusaha memperbaiki sisa pecahan cermin yang masih mungkin untuk disatukan lagi, dengan isolasi dan sedikit lem power glue ibu menyatukan pecahan-pecahan cermin itu.. benar-benar ibu yang tabah. Didit mengucurkan air mata sambil ikut membantu ibunya menyatukan pecahan-pecahan cermin itu.
Hingga menjelang sore akhirnya mereka selesai menyatukan cermin itu. Cermin itupun diletakan lagi di dalam bingkainya yang terbuat dari kayu.
“Alhamdulillah sudah selesai ya dit. Sekarang kita taruh lagi di bingkainya lagi.”
“ibu.. maaf ya gara-gara didit cerminya jadi hancur deh.”
“gak apa-apa dit.. lain kali hati-hati, sudah jangan sedih lagi ya.” Sambil mengusap kepala didit.
“tapi setelah cermin ini pecah kalau bercermin jadi tidak enak lagi ya bu, jadi aneh bu.”
“itulah cermin dit... kalau sudah pecah, sekuat apapun lem atau perekatnya untuk menyatukanya kembali akan tidak enak digunakan, tidak seperti ketika cermin ini utuh. Ya sudah.. didit sekarang mandi dulu sudah sore, ibu mau sholat ashar dulu.”
.............................................................................................................
Kawan.. begitulah persaudaraan.. begitulah ukhuwah yang tidak diikuti dengan kata Islamiyah
Ikatannya hanya sekuat cermin, ketika cermin sudah pecah dan berusaha untuk disatukan kembali tidak akan utuh sekuat disaat sebelum pecah.
Betapa pentingnya tiap-tiap diri kalian karena sudah menjadi bagian dari hidupku jangan sampai yang kita jalin selama ini hanyalah sekuat cermin.
Tidak ingin bicara lagi ketika saudaranya menyakiti hatinya.
Menstigma buruk saudaranya ketika berbuat kesalahan pada dirinya.
Saling berdiam diri diantara kalian karena perbedaan pendapat.
Menjatuhkan saudaranya karena dendam lama yang halus.
Berghibah ria dengan kawan yang lain untuk mencari kesamaan bahwasannya “kita tidak menyukai dia”.
Berbelok arah jalan ketika berpapasan di jalan bertemu dgn dia yang kita benci.
Menjadi orang yang mendramatisir masalah ketika sakit hati terhadapnya.
Benci ketika dia menegur kita dan dalam hati kita berkata “saya lebih baik daripada kamu tau!!”
Terus menyalahkan segala apa yang dia perbuat sampai perbuatan kecil pun disalahkan.
Bahkan... ada yang sampai memutuskan tali silaturahmi terhadap saudaranya.
Lupa bahwa Allah terus memperhatikan mereka.. dan malaikat di sebelah kiri terus mencatat perbuatan jahat itu.
Cukup semua itu menjadi bagian – bagian dari akibat pecahan ukhwah yang masih belum berlandaskan
iman. Cukup jadikan itu sebuah pencarian dimana titik kesadaran sudah sampai pada puncaknya.
Betapa pentingnya tiap-tiap kalian...
Karena kalian juga...
Membantu iman menjadi lebih kuat...
Bersedia menjadi tempat bersandar sementara ketika punggung ini lelah...
Menjadi penasihat setia ketika diri ini lalai..
Meluangkan waktu seperti staf ahli bagi kehidupan ini untuk membantu menyelesaikan semua masalah yang ada...
Karena kalian se-iman dan mengerti akan prinsip persaudaraan ini....
Kekurangan kalian pun menjadi ladang ibadah bagi kelebihan diri ini...
Dan kelebihan kalian pun menjadi sumber paling terpercaya untuk diikuti untuk menutup kekurangan diri ini...
Andaikan da’wah ini bisa tegak dengan sendirinya..
Tidak perlu musa mengajak harun untuk melawan fir’aun
Tidak pula perlu Rasulullah mengajak Abu Bakar untuk menemaninya hijrah ke madinah..
Meskipun pengemban da’wah itu seorang yang kuat, ‘alim, faqih, dan memiliki azzam yang kuat, tetap saja ia manusia lemah dan akan selalu membutuhkan saudaranya meskipun saudaranya memiliki banyak keterbatasan dan kekurangan.
Akhi... Di saat engkau kecewa oleh orang yang dulunya engkau percaya.. Ikhwan-ikhwan lain sebenarnya lebih kecewa dari mu.. mereka menahan dua kekecewaan.. kecewa karena orang yang mereka percaya.. dan kecewa karena tidak diperhatikan lagi olehmu.. tapi mereka tetap bertahan.. menahan dua kekecewaan… karena mereka sadar.. kekecewaan adalah hal yang manusiawi.. tapi dakwah harus selalu terukir dalam hati..
disaat engkau menjauh dari amanah.. dengan berbagai alasan.. sebenarnya, banyak ikhwan di luar sana yang alasannya lebih kuat dan masuk akal berkali-kali lipat dari mu.. tapi mereka sadar akan tujuan hidup.. mereka memang punya alasan.. tapi mereka tidak beralasan dalam jalan dakwah.. untuk Allah.. demi Allah.. mereka.. di saat lelah yang sangat.. masih menyempatkan diri untuk bangun dari tidurnya untuk tahajjud.. bukan untuk meminta sesuatu.. tapi mereka menangis.. curhat ke Allah.. berharap Allah meringankan amanah mereka.. mengisi perut mereka yang sering kosong karena uang habis untuk membiayai dakwah…
ASungguh.. dakwah ini jalan yang berat.. jalan yang terjal.. Rasul berdakwah hingga giginya patah.. dilempari batu.. dilempari kotoran.. diteror.. ancaman pembunuhan….. dakwah ini berat akhi.. dakwah ini bukan sebatas teori.. tapi pengalaman dan pengamalan… tak ada kata-kata `Jadilah..!' maka hal itu akan terjadi.. yang ada `jadilah!' lalu kau bergerak untuk menjadikannya.. maka hal itu akan terjadi.. itulah dakwah… ilmu yang kau jadikan ia menjadi…
jika saudaramu selalu menangis tiap hari..
Bolehkah mereka meminta sedikit bantuanmu..? meminjam bahumu..? berkumpul dan berjuang bersama-sama…?
Agar mereka dapat menyimpan beberapa butir tangisnya.. untuk berterima kasih padamu..
Juga untuk tangis haru saat mereka bermunajat kepada Allah dalam sepertiga malamnya..
"Yaa Allah.. Terimakasih sudah memberi saudara seperjuangan kepadaku.. demi tegaknya Perintah dan laranganMu… Kuatkanlah ikatan kami…"
"Yaa Allah, Engkau mengetahui bahwa hati-hati ini telah berhimpun dalam cinta kepada-Mu, bertemu dalam taat kepada-Mu, bersatu dalam da'wah kepada-Mu, berpadu dalam membela syariat-Mu."
"Yaa Allah, kokohkanlah ikatannya, kekalkanlah cintanya, tunjukillah jalan-jalannya. Penuhilah hati-hati ini dengan cahaya-Mu yang tidak pernah pudar." (maulana Nurudin Al-haq)
Salam dari ku.. salam yang ikatanya lebih kuat dari ikatan pernikahan..
Salam ukhuwah islamiyah..
Wassalamu’alaykum.wr.wb....
Al-fakir, Lubang Buaya @kamar tercinta
2 Mei 2010
09.12 – 12.32
0 komentar:
Posting Komentar