Ketika hafalan diuji #1
setelah menyelesaikan sholat isya aku beranjak keluar dari masjid untuk kembali pulang ke Rumah al-Quran. setelah keluar, aku melihat seorang anak kecil yang sedang berbicara dengan seorang bapak berkaus kutang, mimiknya cukup bengis ketika berbicara dengan anak kecil yang tampangnya lugu. Terlihat si bapak berbicara dengan nada setengah mengusir si anak, akhirnya anak itu berjalan sedikit ke arah pertigaan jalan. Ia berdiri manis di pertigaan jalan yang cukup gelap dekat masjid al-Hidayah, sepertinya menunggu sesuatu, wajahnya kebingungan.
oke.. saat itu aku kurang peduli, mungkin itu hanya keributan antara ayah dan anak, mungkin juga masalah keluarga. Si anak berpenampilan rapih, rambut hitam lurus, mengenakan ransel merah yang sudah usang, dan berkulit sawo matang. persis ketika aku melintas di hadapannya, ia memanggil.
"kak.. aku boleh minta tolong gak kak? aku mau jual baju untuk bantu bayar hutang ibu.", ucapnya sambil memelas dengan mata yang berkaca-kaca, terlihat wajahnya kelelahan.
agak kaget ketika ia memanggil. Jujur, aku berpikir anak ini sedang menipu pasti ia ingin mengemis, tapi dengan modus yang berbeda. maklum di Depok tidak sedikit pengemis yang memintanya dengan cara menipu. ya.. su'udzon tingkat tinggi dan berusaha tetap tenang.
"hmm.. adek tinggal di mana? orang tuanya ke mana? masih ada kan?!"
"aku tinggal di pasar Parung kak, ibu-ku ada di rumah, bapak kerja di daerah pancoran jakarta.", bahasa anak itu cukup sopan dan formal ditambah dengan ekspresinya yang sangat memelas itu, su'udzon mulai berkurang.
"jauh banget dek! pasar Parung kan jauh dari sini, kenapa malem-malem keluyuran begini?"
"aku tadinya mau jual baju di dekat sini kak, malu kalau jual di deket rumah nanti ibu bisa malu. ibu-ku udah janji sama warungnya mau bayar utang malam ini."
"kamu ke sini naik apa? sendirian? kok bisa sampe sini?"
"iya kak sendiri, tadi aku naik angkot turun di terminal depok dan jalan sampai di sini, aku tadi udah nawarin bajuku ke orang-orang, eh.. sampe disini deh.", aku kebingungan akhirnya aku ajak ia untuk datang ke tempatku tinggal, Rumah al-Quran, untuk mencari tahu lebih dalam tentang anak ini.
"ya udah ikut kakak dulu yuk ke rumah, mau gak?"
"iya kak mau." , mimiknya agak berubah mulai ada sedikit senyum dari bibirnya yang mungil.
sepanjang jalan aku terus bertanya tentang dirinya dan dia menjawab dengan jujur, sepertinya.
"kamu udah gak sekolah dek?"
"aku udah berhenti kak dari kelas 2 SD, dulu aku tinggal di Ciputat."
"tinggal di Parung udah berapa lama?"
"kira-kira setahun kak."
"sekarang umur kamu berapa?"
"15 tahun kak."
"harusnya kamu udah SMP ya?! kenapa gak sekolah lagi?" , mungkin ini pertanyaan bodoh karena aku mungkin menyinggung perasaan si anak. Dengan sederhana dia menjawab.
"karena gak ada uang kak, bapakku baru dapet kerja 10 hari ini di daerah Pancoran Jakarta, bapak pulang cuma 3 hari sekali kadang seminggu."
"bapak kerja apa? selama gak sekolah kamu ngapain aja dek?"
"gak tau kak, aku jualan kantong plastik di pasar. setiap pagi aku minta tiga ribu sama ibu, terus aku beli plastik kresek untuk dijual lagi di pasar, biasanya aku dapet tiga belas ribu sampe malem dan itu untuk ibu semua."
mulai hati ini terketuk, jujur sepanjang jalan ketika mendengar jawaban-jawabannya mataku sedang menahan airnya agar tidak keluar. kami hampir sampai dan si anak agak sedikit takut, mulai terpikir lagi jangan-jangan anak ini bohong.
"kak.. aku takut disangka bohong. tadi aku udah tawarin baju-ku ke kakak yang sebelah rumah kakak ini. tapi aku tadi disuruh kakak itu pulang dan aku di kasih uang 25.000." ucapnya sambil tersenyum polos.
mulai lega ternyata rasa takutnya adalah rasa takut dituduh pembohong, aku kira dia memang berbohong. ku suruh dia duduk di ruang tamu teras depan rumah, aku ingin bertanya lebih banyak tentang anak ini. Teman-teman serumah mulai banyak yang datang sehabis sholat isya, mungkin semua juga bertanya-tanya, siapa anak yang sedang bersamaku.
"oke duduk dulu ya, tunggu dulu disini, dek."
aku pikir ini kesempatan untuk benar-benar mencari tahu anak ini jujur atau tidak. memulai dengan basa-basi.
"adek mau belajar al-Quran gak?"
"mau kak.. tapi saya malu, saya dulu cuma sampe iqro' 3. saya belum lancar bacanya."
"bener mau? kalau mau kamu belajar di sini aja. tinggal di sini."
"tapi diajarin dari awal kan kak? saya pasti akan ke sini lagi kak, tapi gak sekarang.", raut wajahnya agak bingung, entah bingung kenapa mungkin karena bingung kalau harus meninggalkan keluarganya jika harus tinggal di Rumah al-Quran tempatku tinggal. masih ada kesempatan agar masa depan anak ini lebih cerah.
"iya pasti dari awal diajarinnya.. dateng aja ya ke sini atau tinggal di sini gak apa-apa. Hmm.. adek jualan baju disuruh ibunya ya?"
"ibu cuma nyuruh saya usaha kak, ibu saya cuma kasih baju bekas untuk saya jual."
"kakak boleh lihat bajunya?"
dia mengeluarkan beberapa baju dari ransel merah lusuh yang ia gendong sedari tadi untuk diperlihatkan kepadaku. lagi-lagi wajahnya sangat polos, jujur, dan lugu, aku, perasaanku tidak bisa bohong untuk merasakan iba atas anak ini, aku hampir menangis. dia coba menawarkan barang dagangnnya dengan telaten.
"ini kak, baju koko punyaku yang udah gak muat, he. yang ini bekas adek-ku yang cewek yang ini bekas ibu.", semangat sekali.
"udah, bajunya jangan dikeluarin semua dek simpen aja.", jujur kali ini aku tidak bisa menahan air mata lagi, ditubuhnya yang kecil itu menyimpan ketegaran yang luar biasa dari seorang anak berumur 15 tahun. akhirny aku masuk dan menyiapkan sedikit hidangan untuk ia. sambil anak itu makan aku mencoba berbicara dengan teman-teman yang ada di rumah tentang dia. semuanya bersimpati dan berempati dan ingin melihat Iksan, salah satu teman ke depan menghampiri dan bertanya.
"namanya siapa dek?"
"iksan kak.", sambil tersenyum.
aku masih di dalam rumah menceritakan tentang si anak ke beberapa teman yang lain dan meminta teman-teman seisi rumah untuk membantu anak ini. disini dimulai apa yang sudah kami pelajari dan hafal diuji secara berjama'ah, tidak mudah memang untuk mengamalkan ayat-ayat al-Quran, penuh kemelut.
وَسَارِعُواْ إِلَى مَغْفِرَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ
الَّذِينَ يُنفِقُونَ فِي السَّرَّاء وَالضَّرَّاء وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ
Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, . (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema'afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. (Q.S. Al-'Imran: 133-134)
faktanya sebagian besar dari kami saat itu sedang dilanda krisis, ada yang tidak punya uang sama sekali sampai-sampai ada salah satu teman yang menyumbang kornet, ini kesempatan untuk membuktikan bahwa yang kami hafal diamalkan sebagai bentuk tanggung jawab kepada Allah. tidak sedikit teman yang mengeluh karena sedang krisis, tetapi pada akhirnya teman-teman berusaha berbagi semampunya. Setelah satu-persatu dimintai alhamdulillah terkumpul beberapa ratus ribu, 2 kaleng kornet, 1 botol minuman, dan beras 4 liter untuk diberikan kepada Iksan. Iksan menjadi bingung tiba-tiba jadi banyak orang yang mengelilinginya dan menanyainya.
"Iksan pulangnya dianterin mau gak? ini udah malem.", salah seorang dari kami menawarkan Iksan.
"boleh kak.. tapi naik angkot aja gak apa-apa kak."
setelah kami musyawarah kecil akhirnya aku yang ditunjuk teman-teman untuk mengantarkan Iksan pulang. baiklah, semuanya berlomba-lomba meminjamkan motor untuk mengantarkan Iksan. akhirnya aku mengantar Iksan pulang dia pun pamit dengan kakak-kakak yang lain dan ia menyalami para kakak satu persatu. kurang lebih 45 menit perjalanan aku tiba di rumah Iksan, ternyata benar Iksan tidak bohong rumahnya di sekitar pasar Parung, aku matikan motor dan melihat ke arah rumah kontrkan kecil berwarna hijau terlihat Ibunya yang sedang istirahat dan empat orang adiknya sedang tidur santai. kedatanganku membuat Ibu Iksan kaget dan adiknya jadi terbangun dari tidur, Iksan masuk ke dalam rumah lebih dahulu membangunkan ibunya.
"assalamu'alaykum."
"wa'alaykumsalam.", jawab ibunya.
"ibu, tadi saya bertemu dengan Iksan di daerah margonda. tadi dia menawarkan baju ke saya."
"bapak ada bu?"
"bapak lagi kerja di jakarta mas."
"oh.. maaf mas jadi ngerepotin.", mata ibunya mulai berkaca-kaca entah kenapa.
"nggak apa-apa bu, alhamdulillah Iksan selamat. saya gak tega tadi lihat dia sendirian nawarin baju. begini bu.. kalau bisa Iksan jangan dibiarkan seperti itu lagi."
"iya mas.. iya." ibunya menangis dan aku berusaha menahan perasaan.
"kak.. mau minum dulu?", kata Iksan dengan penuh kesopanan sambil tersenyum, mungkin dia seperti itu untuk mengalihkan perasaan sedih karena melihat ibunya menangis karena kata-kata ku.
"gak usah san.. kakak gak lama kok."
akupun menawarkan Iksan agar bisa belajar kembali dihadapan ibunya.
"ibu.. gimana kalau Iksan dititip di tempat saya, tempat saya itu tempat belajar al-Quran. kalau ibu mau Iksan bisa belajar al-Quran ditempat saya, gratis bu."
"oh.. gratis ya mas."
"iya.. mudah-mudahan nanti Iksan bisa menghafal semua isi al-Quran, hafizh Quran, orang biasa bilang yang hafal al-Quran itu Hafizh."
"ohh yang bener mas."
"iya betul.. mungkin sekitar 2 tahun Iksan bisa jadi seorang hafizh."
raut wajah ibunya berubah ketika mendengar kata '2 tahun', Iksan anak pertama dikeluarganya mungkin ibunya belum rela kalau harus melepas anakny yang hebat selama itu.
"tapi terserah ibu sama bapak dan ihsan aja.. kita siap membantu, insya Allah. kalau memang nanti mau silahkan dateng aja bu, Iksan tau tempatnya. ya kan san?"
"iya kak aku inget kok."
"yaudah kalau gitu.. saya mohon pamit dulu. ini ada sedikit uang dan beberapa bantuan sedikit dari teman-teman saya untuk ibu dan keluarga mohon di terima."
tiba-tiba ibu menangis dan Iksan ikut berkaca-kaca matanya sambil berkata, "makasih banyak ya kak. huhu.."
penuh tangis.
akupun pamit adik-adik Iksan menyalamiku satu-persatu Rahman, Dewi, Rizky, kecuali si bungsu, Fajar, dia sedang tertidur.
"kaka pamit y, salam untuk bapak."
"makasih banyak mas."
"kak.kapan-kapan main ke sini lagi ya."
"insya Allah san ya.."
:')
1 komentar:
Terharu Jadinya
Posting Komentar