Ahlan wa sahlan bihudurikum... mohon tinggalkan jejak anda, syukran... :)

Rabu, 14 Juli 2010

Memang seperti itulah dakwah

Memang
seperti itulah dakwah. Dakwah adalah cinta. Dan cinta akan meminta
semuanya dari dirimu.

Sampai pikiranmu. Sampai perhatianmu.
Berjalan,
duduk, dan tidurmu.. Bahkan di tengah lelapmu, isi mimpimu pun tentang
dakwah. Tentang umat yg kau cintai..
Lagi-lagi memang seperti itu. Dakwah. Menyedot saripati energimu.

Sampai tulang belulangmu. Sampai daging terakhir yg menempel di tubuh
rentamu.

Tubuh yg luluh lantak diseret-seret. . Tubuh yang
hancur lebur
dipaksa berlari..

Seperti itu pula kejadiannya pada rambut Rasulullah. Beliau memang
akan tua juga.

Tapi kepalanya beruban karena beban berat dari ayat yg
diturunkan Allah.
Sebagaimana tubuh mulia Umar bin Abdul Aziz. Dia memimpin hanya
sebentar.

Tapi kaum muslimin sudah dibuat bingung. Tidak ada
lagi orang
miskin yg bisa diberi sedekah. Tubuh mulia itu terkoyak-koyak.

Sulit
membayangkan sekeras apa sang Khalifah bekerja. Tubuh yang segar bugar
itu sampai rontok. Hanya dalam 2 tahun ia sakit parah kemudian
meninggal. Toh memang itu yang diharapkannya; mati sebagai jiwa yang
tenang.
Dan di etalase akhirat kelak, mungkin tubuh Umar bin Khathab juga
terlihat tercabik-cabik. Kepalanya sampai botak. Umar yang perkasa pun
akhirnya membawa tongkat ke mana-mana. Kurang heroik? Akhirnya
diperjelas dengan salah
satu luka paling legendaris sepanjang sejarah;
luka ditikamnya seorang Khalifah yang sholih, yang sedang
bermesra-mesraan dengan Tuhannya saat sholat.

Dakwah bukannya tidak melelahkan. Bukannya tidak membosankan.

Dakwah
bukannya tidak menyakitkan. Bahkan juga para pejuang risalah bukannya
sepi dari godaan kefuturan.

Tidak… Justru kelelahan. Justru
rasa sakit
itu selalu bersama mereka sepanjang hidupnya. Setiap hari.

Satu kisah
heroik, akan segera mereka sambung lagi dengan amalan yang jauh lebih
"tragis".

Justru karena rasa sakit itu selalu mereka rasakan, selalu
menemani… justru karena rasa sakit itu selalu mengintai ke mana pun
mereka pergi… akhirnya menjadi adaptasi. Kalau iman dan godaan rasa
lelah selalu bertempur, pada akhirnya salah satunya harus mengalah.

Dan
rasa lelah itu sendiri yang akhirnya lelah untuk mencekik iman. Lalu
terus berkobar dalam dada.

Begitu pula rasa sakit. Hingga
luka tak kau
rasa lagi sebagai luka. Hingga "hasrat untuk mengeluh" tidak lagi
terlalu menggoda dibandingkan jihad yang begitu cantik.

Begitupun Umar. Saat Rasulullah wafat, ia histeris. Saat Abu Bakar wafat, ia tidak lagi mengamuk. Bukannya tidak cinta pada abu Bakar.
Tapi saking seringnya "ditinggalkan" , hal itu sudah menjadi kewajaran.
Dan menjadi semacam tonik bagi iman..
Karena itu kamu tahu. Pejuang yg heboh ria memamer-mamerkan amalnya
adalah anak kemarin sore.

Yg takjub pada rasa sakit dan
pengorbanannya
juga begitu. Karena mereka jarang disakiti di jalan Allah.

Karena tidak
setiap saat mereka memproduksi karya-karya besar.

Maka
sekalinya hal
itu mereka kerjakan, sekalinya hal itu mereka rasakan, mereka merasa
menjadi orang besar.

Dan mereka justru jadi lelucon dan
target doa para
mujahid sejati, "ya Allah, berilah dia petunjuk… sungguh Engkau Maha
Pengasih lagi maha Penyayang… "

Maka satu lagi seorang pejuang tubuhnya luluh lantak. Jasadnya
dikoyak beban dakwah. Tapi iman di hatinya memancarkan cinta… Mengajak
kita untuk terus berlari…

"Teruslah bergerak, hingga kelelahan itu lelah mengikutimu.
Teruslah berlari, hingga kebosanan itu bosan mengejarmu.
Teruslah berjalan, hingga keletihan itu letih bersamamu.
Teruslah bertahan, hingga kefuturan itu futur menyertaimu.
Tetaplah berjaga, hingga kelesuan itu lesu menemanimu."

(Ustadz Rahmat Abdullah)

0 komentar:

Posting Komentar