inspirasi,Kontemplasi
1 comment
Dijebak Iba
Remang redup, lemas, belum jelas mataku memandang kemudian kaget hingga akhirnya mataku terbuka. Aku tidak tahu sekarang berada di mana. Di atas kasur keras berkutu, panas. Ku coba membangunkan diri dari posisi tidur menjadi duduk, cahaya matahari masuk melalui ventilasi sedikit membantu untuk melihat sekeliling, kaget. Ini ruang tidur. Entah ruang tidur siapa. Sayup terdengar suara mesin air bersamaan dengan teriakan laki-laki. Aku coba bangkit dari tempat tidur dan berjalan menuju pintu, terkunci, pintunya terkunci dari luar. Ada cahaya terang terpancar dari celah kunci, mengundang rasa penasaranku untuk mengintip keluar. Kali ini suara teriakan itu lebih keras terdengar dan beriringan dengan tangisan anak kecil, isaknya keras, tidak asing. Ah! Itu suara Nas Gadis kecil yang aku tolong. Aku ingat, sebelum ada di ruang ini aku terakhir bersamanya.
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Tumpukan tugas kuliah membuatku geram. Ingin rasanya segera menyelesaikan kuliah dan hidup tanpa tekanan. Malam itu aku baru saja berkonsultasi dengan dosen antropologi budaya, tidak biasa aku pulang malam begini. Tapi inilah konsekuensi dari seorang pelajar, tugas, tugas, dan tugas. Hampir setiap hari. kali ini aku harus pulang lebih malam dari biasanya karena ada beberapa buku yang ingin aku pinjam dari dosen antropologi budaya. Aku menunggu di depan ruang dosen sambil membuka notebook untuk merampungkan tugas-tugas yang bisa diselesaikan. Sepi, hanya ada sekitar 10 orang di lantai itu termasuk aku. Sebagian ruangan sudah padam lampunya. Pukul 21:00 akhirnya dosen itu tiba.
"wah.. Maaf San. Nunggu lama ya?"
"gak apa-apa bu."
"tunggu di sini ya. Oh iya.. Kamu sudah makan?"
"saya tidak lapar bu. Terima Kasih."
Masuklah dia ke dalam ruang dosen. Ketika dibukakan pintu, udara dingin ruangan itu terasa sampai ke arah tempatku duduk, sejuk hingga menembus jaket. Lima menit berlalu. Datanglah ibu itu dengan beberapa buku yang aku minta. Ia menyeringai menatapku. Lalu tersenyum ramah.
"Ini San buku-bukunya.", ia letakan tumpukan buku itu di atas meja tempatku duduk. Wow.. Sepertinya berat. Aroma buku tua, aku melihat satu persatu buku itu. Kekuningan kertasnya, terlihat ada beberapa jahitan di bagian jilid buku. Ini memang bukan buku sembarangan, jarang orang yang memiliki.
"tolong dijaga jangan sampai rusak ya."
"iya bu.. Terima kasih.", aku memasukan buku tersebut ke dalam plastik dan sebagian ke dalam ransel. Senang akhirnya aku mendapatkan yang aku butuhkan.
"hmm.. Ibu saya langsung pamit ya."
"oh iya.. Hati-hati. Ngomong-ngomong kamu pulang sendirian?"
"ehm.. Iya bu."
"gak apa-apa sendirian?"
"udah biasa kok bu. Tenang aja."
"oke lah.. Hati-hati ya."
Aku berjalan ke luar fakultas. Sedikit orang lalu-lalang di sekitarnya hanya ada beberapa mahasiswa S2 dan S3 yang baru selesai kuliah, mungkin karena habis hujan, jalan juga menjadi agak sepi. Hanya ada beberapa tukang ojek yang lalu-lalang menawarkan diri untuk ditumpangi. Beberapa mobil lewat dengan kecepatan agak tinggi. Lampu-lampu jalan raya tidak semua menyala, cahayanya remang-remang sebagian memantul ke genangan air di jalan raya, memancarkan pesona kelembaban udara dan dinginnya udara malam itu. Aku berjalan terus menyusuri trotoar jalan raya. Dekat dengan pintu pagar menuju keluar ada anak kecil tertunduk menangis. Dia menatapku dari kejauhan, aku terus berjalan tidak peduli. Ini sudah malam aku harus segera kembali ke kos-an dan mngerjakan tugas-tugasku. Tepat satu meter di depannya dia memanggilku.
"Kak.. Tolong aku kak."
Aku keluarkan uang dari dompet dan memberikannya kepada anak itu. Tanpa banyak kata.
"aku gak minta uang kak."
"terus kamu mau apa?"
"aku mau minta tolong kak."
"tolong apa?"
"aku mau pulang, kak."
"memang rumah kamu di mana dek?"
"di gang sadar kak."
Gang sadar. Itu tidak jauh dari tempatku, hanya beberapa blok. Kasihan anak ini, pasti ada masalah sehingga sampai menangis ingin pulang. Anak ini agak dekil, bajunya lembab, rambutnya ikal, basah. Aku antar ia sampai ke rumah. Menyebrang rel kereta lalu melewati gang-gang kecil hingga akhirnya bertemu dengan jalan raya yang ramai. Aku berdiri diantara gapura, banyak angkot berhenti menunggu penumpang. Gang sadar ada di sebrang jalan sana. Bersama anak itu aku menyebrang sambil menuntun tangannya yang mungil. Sampai di sebrang ia menangis. Dan menghentikan langkah.
"hiks.. kak.. Aku gak mau pulang."
"lho.. Kenapa dek? Ada apa?"
"takut kak."
"takut kenapa?"
"takut dimarahin bapak."
"Memang bapak kenapa? Oh iya.. Nama kamu siapa?", sambil menurunkan badan agar sejajar dengannya. Aku bingung harus bagaimana kali ini.
"namaku Nas kak.. Bapakku suka jahat kak. Hiks.."
"jahat gimana?"
Nas terdiam. Hanya bisa terus menangis. Air matanya terusap oleh asap kendaraan yang lalu-lalang. Entah apa masalahnya aku tidak tahu. Matanya berbicara ada masalah berat yang tidak dia mengerti. Aku iba kali ini. Perempuan kecil yang malang.
"hmm.. Nas tenang aja ya. Nanti kakak antar sampai ketemu bapak supaya Nas gak dimarahin lagi."
"jangan kak.", sambil mengusap air mata dan menghapus lendir yang turun dari hidungnya.
"gak apa-apa, yuk kakak antar sampai rumah."
Akhirnya Nas berhenti menangis, dan mau menerima tawaranku. kali ini Ia menuntunku ke dalam gang sadar. Masih banyak orang sedang makan malam di warung makan sepanjang gang.
"Nas kenapa takut pulang? Kakak boleh tau gak?"
"bapak orang jahat kak!"
"jangan bilang gitu Nas. Sejahat-jahatnya orang tua pasti akan tetap sayang dengan anaknya. Udah ya jangan sedih nanti kakak akan bicara dengan bapak Nas, supaya Nas tidak kena marah. Senyum dong."
Nas tersenyum bingung. Entah apa yang ia sembunyikan. Mungkin ia hanya bertengkar biasa dengan bapaknya. Dan sekarang pasti bapaknya sedang mencari-cari di mana Nas berada. Mudah-mudahan aku bisa membantu Nas.
"kak.. Warna jilbab kakak lucu ya, biru. Nas dari dulu ingin pakai jilbab tapi gak punya kak. He.."
kaget aku mendengar celoteh dari bibir mungil yang sedari tadi hanya terisak dan sedikit bicara.
"Nas mau pake jilbab? Nanti kakak ajarin deh ya bagaimana pakai jilbab. Sekarang yang penting Nas pulang dulu ya."
"Iya kakak cantik."
"he.. Oh iya, nama kakak, San."
"gak apa-apa kan kalau aku panggil kakak cantik?"
Aku tersenyum mendengar celotehnya yang polos. Serasa punya adik baru dalam waktu yang sebentar.Aku berjalan terus sampai di ujung gang yang penuh dengan pohon rambutan dan bambu, cukup jauh. Aku bingung dimana rumah anak ini.
"kak sampai sini aja ya. Terima kasih sudah antar Nas sampai sini."
"lho.. Rumah kamu di mana?"
"di sana kak. Itu yang ada lampu di tengah kebun bambu."
Redup cahanya. Aku bisa melihat dari pinggir jalan tempatku berdiri. Rumah setengah tembok dan setengah lagi anyaman bambu.
"ayo kakak antar sampai ketemu bapak."
"jangan kak. Aku gak mau terjadi sesuatu sama kakak. Kakak pulang aja, ini sudah malam."
Makin penasaran aku dibuatnya. Masalah apa yang ia sembunyikan. Aku sudah berjanji akan berbicara dengan Bapak Nas. Aku menarik tangan Nas.
"ayo Nas. Kakak mau ketemu bapak kamu."
Sampai aku di depan pintu.
Tok.. Tok..
"assalamualaykum."
Tok.. Tok..
"assalamualaykum."
"siapa tu? Ganggu aja malem-malem.", terdengar teriakan keras seorang lelaki. Aku siap untuk menghadapi Bapak Nas, suaranya menggambarkan bagaimana sosok Bapak Nas, mungkin garang. Segarang apapun, meski bukan urusanku, tapi Nas masih kecil dia berhak mendapatkan kasih sayang.Terbukalah pintu rumah itu. Keluar laki-laki setengah telanjang bercelana jeans. Terlihat bekas luka di bagian dadanya dan ada sedikit tatto di lengan kiri.
"ada apa? Siapa lo?"
"ini pak. Saya mau antar Nas pulang."
"oh.. Biarin aja dia gak pulang juga gak masalah, gue gak peduli. Hahaha."
"jangan gitu pak. Ini anak bapak."
"eh! Diem lo. Bukan urusan lo."
Sepertinya bapak Nas sedang mabuk. Sekarang Aku mengerti masalah Nas. Aku putuskan untuk mengembalikan Nas segera ke bapaknya tapi saat itu juga aku berpikir ingin membawa Nas ke tempat kos ku.
"Nas, maafin kakak. Kakak gak bisa bantu banyak.", entah mengapa air mataku kali ini menetes.
"kak.. Aku mau ikut kakak.", sambil menangis Nas memohon.Terlalu beresiko jika aku membawa Nas. Akhirnya aku pamit dengan Nas dan bapaknya. Tiga langkah aku berlari kecil.
"mau kemana lo, hah?!!"
Aku ingat itu teriakan terakhir yang ku dengar.
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
"aw.. Sakit."
Punggungku terasa nyeri. Tersentak aku. Kemana jilbab yang aku pakai dan pakaian yang aku kenakan. Entah apa yang sudah terjadi terhadapku, aku tidak mengerti. Sulit untuk menahan tangis. Di pojok kamar dekat lemari dan jendela. Di sana pakaianku tergeletak. Di atas buku yang aku pinjam dan ransel merahku. Suara teriakan laki-laki masih terdengar keras. Aku ambil pakaianku dan jilbab segera ku kenakan asal, yang penting tertutup. Aku ambil ransel dan buku tua pinjaman dosen. Lalu aku hancurkan kaca jendela dengan buku itu. Ternyata tembok yang menahan jendela itu ikut roboh. Aku loncat lalu berlari semampuku. Dari kejauhan aku dengar teriakan sumbang laki-laki itu. Maafkan aku Nas.
Disadur dari kisah nyata.
1 komentar:
mmmuuaaannttaaapp..
gmna kbar.a mpit?
folbeck ya http://meryhanita.blogspot.com/
Posting Komentar