Ahlan wa sahlan bihudurikum... mohon tinggalkan jejak anda, syukran... :)

Jumat, 16 April 2010

Tanjung Priok 1984 dan 2010, samakah?

Tanjung Priok, sebuah wilayah di utara Jakarta tersebut memang pernah mendulang masa keemasan pada tahun 1980-an. Sebab, salah satu pelabuhan internasional Indonesia terdapat di wilayah ini. Hilir mudik kendaraan berat dan aktivitas bongkar muat selalu menjadi daya tarik tersendiri di wilayah ini. Tapi siapa sangka di tengah kerasnya kehidupan masyarakat pesisir, nama Tanjung Priok ternyata diambil dari nama seorang tokoh ulama yang melakukan siar agama Islam sejak ratusan tahun silam? Ya, dialah Al Imam Al Arif Billah Al Habib Hasan bin Muhammad Al Haddad Al Husaini Ass Syafi`i Sunni RA atau akrab disapa mbah Priok. Makam mbah Priok terdapat di dalam areal pelabuhan Petikemas Koja, Tanjungpriok. Cukup besar pengaruh beliau terhadap perkembangan awal-awal Islam di wilayah Jakarta. Dan Tanjung Priok meninggalkan banyak cerita untuk kita rakyat bangsa ini, bahkan ketika di masa orde baru. Berkut ini adalah sedikit penjelasan latar belakang konflik Tj. Priok 10 September 1984

Senin, 10 September 1984. Seorang oknum ABRI beragama Katholik, Sersan Satu Hermanu, mendatangi mushala As-Sa'adah untuk menyita pamflet berbau 'SARA'. Namun tindakan Sersan Hermanu sangat menyinggung perasaan ummat Islam. Ia masuk ke dalam masjid tanpa melepas sepatu, menyiram dinding mushala dengan air got, bahkan menginjak Al-Qur'an. Warga marah dan motor Hermanu dibakar. Buntutnya, empat orang pengurus mushala diciduk Kodim. Hingga pada akhirnya timbul konflik antara umat Islam Tj. Priok dengan Aparat.

Kalau mau lebih lengkap disini

http://www.ummah.net/islam/nusantara/realita/priok.html

Dan ada beberapa kesaksian mengenai kasus ini, diantaranya:

Versi Abdul Qadir Djaelani
Abdul Qadir Djaelani adalah salah seorang ulama yang dituduh oleh aparat keamanan sebagai salah seorang dalang peristiwa Tanjung Priok. Karenanya, ia ditangkap dan dimasukkan ke dalam penjara. Sebagai seorang ulama dan tokoh masyarakat Tanjung Priok, sedikit banyak ia mengetahui kronologi peristiwa Tanjung Priok. Berikut adalah petikan kesaksian Abdul Qadir Djaelani terhadap peristiwa Tanjung Priok 12 September 1984, yang tertulis dalam eksepsi pembelaannya berjudul “Musuh-musuh Islam Melakukan Ofensif terhadap Umat Islam Indonesia”.

Sabtu, 8 September 1984
Dua orang petugas Koramil (Babinsa) tanpa membuka sepatu, memasuki Mushala as-Sa'adah di gang IV Koja, Tanjung Priok, Jakarta Utara. Mereka menyiram pengumuman yang tertempel di tembok mushala dengan air got (comberan). Pengumuman tadi hanya berupa undangan pengajian remaja Islam (masjid) di Jalan Sindang.

Ahad, 9 September 1984
Peristiwa hari Sabtu (8 September 1984) di Mushala as-Sa'adah menjadi pembicaran masyarakat tanpa ada usaha dari pihak yang berwajib untuk menawarkan penyelesaan kepada jamaah kaum muslimin.

Senin, 10 September 1984
Beberapa anggota jamaah Mushala as-Sa'adah berpapasan dengan salah seorang petugas Koramil yang mengotori mushala mereka. Terjadilah pertengkaran mulut yang akhirnya dilerai oleh dua orang dari jamaah Masjid Baitul Makmur yang kebetulan lewat. Usul mereka supaya semua pihak minta penengahan ketua RW, diterima.

Sementara usaha penegahan sedang.berlangsung, orang-orang yang tidak bertanggung jawab dan tidak ada urusannya dengan permasalahan itu, membakar sepeda motor petugas Koramil itu. Kodim, yang diminta bantuan oleh Koramil, mengirim sejumlah tentara dan segera melakukan penangkapan. Ikut tertangkap 4 orang jamaah, di antaranya termasuk Ketua Mushala as-Sa'adah.

Selasa, 11 September 1984
Amir Biki menghubungi pihak-pihak yang berwajib untuk meminta pembebasan empat orang jamaah yang ditahan oleh Kodim, yang diyakininya tidak bersalah. Peran Amir Biki ini tidak perlu mengherankan, karena sebagai salah seorang pimpinan Posko 66, dialah orang yang dipercaya semua pihak yang bersangkutan untuk menjadi penengah jika ada masalah antara penguasa (militer) dan masyarakat. Usaha Amir Biki untuk meminta keadilan ternyata sia-sia.

Rabu, 12 September 1984
Dalam suasana tantangan yang demikian, acara pengajian remaja Islam di Jalan Sindang Raya, yang sudah direncanakan jauh sebelum ada peristiwa Mushala as-Sa'adah, terus berlangsung juga. Penceramahnya tidak termasuk Amir Biki, yang memang bukan mubalig dan memang tidak pernah mau naik mimbar. Akan tetapi, dengan latar belakang rangkaian kejadian di hari-hari sebelumnya, jemaah pengajian mendesaknya untuk naik mimbar dan memberi petunjuk. Pada kesempatan pidato itu, Amir Biki berkata antara lain, "Mari kita buktikan solidaritas islamiyah. Kita meminta teman kita yang ditahan di Kodim. Mereka tidak bersalah. Kita protes pekerjaan oknum-oknum ABRI yang tidak bertanggung jawab itu. Kita berhak membela kebenaran meskipun kita menanggung risiko. Kalau mereka tidak dibebaskan maka kita harus memprotesnya." Selanjutnya, Amir Biki berkata, "Kita tidak boleh merusak apa pun! Kalau adayang merusak di tengah-tengah perjalanan, berarti itu bukan golongan kita (yang dimaksud bukan dan jamaah kita)." Pada waktu berangkat jamaah pengajian dibagi dua: sebagian menuju Polres dan sebagian menuju Kodim.

Setelah sampai di depan Polres, kira-kia 200 meter jaraknya, di situ sudah dihadang oleh pasukan ABRI berpakaian perang dalam posisi pagar betis dengan senjata otomatis di tangan. Sesampainya jamaah pengajian ke tempat itu, terdengar militer itu berteriak, "Mundur-mundur!" Teriakan "mundur-mundur" itu disambut oleh jamaah dengan pekik, "Allahu Akbar! Allahu Akbar!" Saat itu militer mundur dua langkah, lalu memuntahkan senjata-senjata otomatis dengan sasaran para jamaah pengajian yang berada di hadapan mereka, selama kurang lebih tiga puluh menit. Jamaah pengajian lalu bergelimpangan sambil menjerit histeris; beratus-ratus umat Islam jatuh menjadi syuhada. Malahan ada anggota militer yang berteriak, "Bangsat! Pelurunya habis. Anjing-anjing ini masih banyak!" Lebih sadis lagi, mereka yang belum mati ditendang-tendang dan kalau masih bergerak maka ditembak lagi sampai mati.

Tidak lama kemudian datanglah dua buah mobil truk besar beroda sepuluh buah dalam kecepatan tinggi yang penuh dengan pasukan. Dari atas mobil truk besar itu dimuntahkan peluru-peluru dan senjata-senjata otomatis ke sasaran para jamaah yang sedang bertiarap dan bersembunyi di pinggir-pinggir jalan. Lebih mengerikan lagi, truk besar tadi berjalan di atas jamaah pengajian yang sedang tiarap di jalan raya, melindas mereka yang sudah tertembak atau yang belum tertembak, tetapi belum sempat menyingkir dari jalan raya yang dilalui oleh mobil truk tersebut. Jeritan dan bunyi tulang yang patah dan remuk digilas mobil truk besar terdengarjelas oleh para jamaah umat Islam yang tiarap di got-got/selokan-selokan di sisi jalan.

Setelah itu, truk-truk besar itu berhenti dan turunlah militer-militer itu untuk mengambil mayat-mayat yang bergelimpangan itu dan melemparkannya ke dalam truk, bagaikan melempar karung goni saja. Dua buah mobil truk besar itu penuh oleh mayat-mayat atau orang-orang yang terkena tembakan yang tersusun bagaikan karung goni.

Sesudah mobil truk besar yang penuh dengan mayat jamaah pengajian itu pergi, tidak lama kemudian datanglah mobil-mobil ambulans dan mobil pemadam kebakaran yang bertugas menyiram dan membersihkan darah-darah di jalan raya and di sisinya, sampai bersih.

Sementara itu, rombongan jamaah pengajian yang menuju Kodim dipimpin langsung oleh Amir Biki. Kira-kirajarak 15 meter dari kantor Kodim, jamaah pengajian dihadang oleh militer untuk tidak meneruskan perjalanan, dan yang boleh meneruskan perjalanan hanya 3 orang pimpinan jamaah pengajian itu, di antaranya Amir Biki. Begitu jaraknya kira-kira 7 meter dari kantor Kodim, 3 orang pimpinan jamaah pengajian itu diberondong dengan peluru yang keluar dari senjata otomatis militer yang menghadangnya. Ketiga orang pimpinan jamaah itu jatuh tersungkur menggelepar-gelepar. Melihat kejadian itu, jamaah pengajian yang menunggu di belakang sambil duduk, menjadi panik dan mereka berdiri mau melarikan diri, tetapi disambut oleh tembakan peluru otomatis. Puluhan orang jamaah pengajian jatuh tersungkur menjadi syahid. Menurut ingatan saudara Yusron, di saat ia dan mayat-mayat itu dilemparkan ke dalam truk militer yang beroda 10 itu, kira-kira 30-40 mayat berada di dalamnya, yang lalu dibawa menuju Rumah Sakit Gatot Subroto (dahulu RSPAD).

Sesampainya di rumah sakit, mayat-mayat itu langsung dibawa ke kamar mayat, termasuk di dalamnya saudara Yusron. Dalam keadaan bertumpuk-tumpuk dengan mayat-mayat itu di kamar mayat, saudara Yusron berteriak-teriak minta tolong. Petugas rumah sakit datang dan mengangkat saudara Yusron untuk dipindahkan ke tempat lain.

Sebenarnya peristiwa pembantaian jamaah pengajian di Tanjung Priok tidak boleh terjadi apabila PanglimaABRI/Panglima Kopkamtib Jenderal LB Moerdani benar-benar mau berusaha untuk mencegahnya, apalagi pihak Kopkamtib yang selama ini sering sesumbar kepada media massa bahwa pihaknya mampu mendeteksi suatu kejadian sedini dan seawal mungkin. Ini karena pada tanggal 11 September 1984, sewaktu saya diperiksa oleh Kepolisian Daerah Metropolitan Jakarta Raya, saya sempat berbincang-bincang dengan Kolonel Polisi Ritonga, Kepala Intel Kepolisian tersebut di mana ia menyatakan bahwa jamaah pengajian di Tanjung Priok menuntut pembebasan 4 orang rekannya yang ditahan, disebabkan membakar motor petugas. Bahkan, menurut petugas-petugas satgas Intel Jaya, di saat saya ditangkap tanggal 13 September 1984, menyatakan bahwa pada tanggal 12 September 1984, kira-kira pukul 10.00 pagi. Amir Biki sempat datang ke kantor Satgas Intel Jaya.


Versi Resmi Pemerintah Orde Baru
Versi resmi peristiwa Tanjung Priok dikeluarkan sekitar sepuluh jam setelah peristiwa ini terjadi. Keterangan resmi pemerintah Orde Baru dikemukakan oleh Pangab/Pangkopkamtib L.B. Moerdani didampingi oleh Menteri Penerangan Harmoko, Pangdam V/Jaya Try Soetrisno, dan Kapolda Metro Jaya Drs. Soedjoko. Keterangan resmi peristiwa Tanjung priok diterima publik diuraikan oleh Pangab sebagai berikut.

Di sekitar Masjid Rawabadak terpasang pamflet dan poster yang menghasut bersifat SARA. Karena imbauan petugas agar pamflet-pamflet dan poster-poster itu dihapus atau dicabut tidak dihiraukan, seorang petugas, pada hari jumat tanggal 7 September 1984, menutup tulisan-tulisan yang bersifat menghasut itu dengan warna hitam.

Pada hari senin, 10 September 1984, seorang petugas yang sedang menjalankan tugasnya di daerah Koja, dihadang dan kemudian dikeroyok oleh sekelompok orang. Petugas keamanan berhasil menyelamatkan diri, tetapi sepeda motornya dibakar oleh para penghadang. Aparat keamanan pun menangkap empat orang pelakunya untuk keperluan pengusutan dan penuntutan sesuai ketentuan hukum yang berlaku.

Pada hari Rabu, 12 September 1984, pukul 19.30 WIB, di Masjid Rawabadak berlangsung ceramah agama tanpa izin dan bersifat menghasut. Penceramahnya antara lain Amir Biki (tewas tertembak), Syarifin Maloko (tertangkap setelah semua sidang perkara Tanjung Priok selesai), M. Nasir (bukan M. Natsir mantan Perdana Menteri dan ketua DDII), tidak pernah diketahui keberadaannya setelah peristiwa malam itu. Pukul 22.00 WIB aparat keamanan menerima telepon dari Amir Biki yang berisi ancaman pembunuhan dan perusakan apabila keempat tahanan tidak dibebaskan. Sekitar pukul 23.00 WIB ancaman telepon diulang lagi.

Setelah itu, sekitar 1.500 orang menuju Polres dan Kodim. Lima belas orang petugas keamanan menghambat kerumunan atau gerakan massa tersebut. Regu keamanan berusaha membubarkan massa dengan secara persuasif, namun dijawab dengan teriakan-teriakan yang membangkitkan emosi dan keberingasan massa. Massa terus maju mendesak satuan keamanan sambil mengayun-ayunkan dan mengacung-acungkan celurit.

Dalam jarak yang sudah membahayakan, regu keamanan mulai memberikan tembakan peringatan dan tidak dihiraukan. Tembakan diarahkan ke tanah dan kaki penyerang, korban pun tidak dapat dihindari. Setelah datang pasukan keamanan lainnya, barulah massa mundur, tetapi mereka membakar mobil, merusak beberapa rumah, dan apotek.

Sekitar tiga puluh menit kemudian gerombolan menyerang kembali petugas keamanan, sehingga petugas keamanan dalam kondisi kritis dan terpaksa melakukan penembakan-penembakan untuk mencegah usaha perusuh merebut senjata dan serangan-serangan dengan celurit dan senjata tajam lainnya.

Hari Kamis, 13 September 1984, pukul 00.00 WIB, pasukan keamanan Laksusda (Pelaksana Khusus Daerah) Jaya berhasil mengendalikan situasi, menguasai keadaan, dan membubarkan massa. Menurut Pangab dalam versi ini, 9 orang meninggal dan 53 luka-luka.

Versi Intern Aparat Pemerintahan Orde Baru
Versi kedua ini diungkapkan oleh Pangab/Pangkopkamtib dalam penjelasan kepada lurah wilayah Jakarta Utara. Penjelasan Pangab/Pangkopkamtib sebagai berikut.

Jumat, 7 September, di sekitar Masjid Rawabadak banyak tertempel pengumuman tentang ceramah oleh mubalig-mubalig yang terkenal ekstrem, keras, bukan mubalig ayam sayur. Salah seorang petugas Koramil setempat, yang merasa terhina karena peringatan-peringatannya pada panitia untuk tidak mengundang penceramah seperti itu , mubalig keras, selalu diabaikan, menyiram salah satu pengumuman dengan air selokan.

Senin, 10 September 1984, petugas yang menyiram pengumuman dengan air selokan itu lewat di depan sekelompok pemuda yang sedang berada di Pasar Koja. Mereka segera menghadangnya dan mencoba mengeroyok petugas tersebut. Pada saat itu ada dua warga yang mencoba menyelamatkan petugas itu. Setelah itu para pengeroyok mencoba melampiaskan kemarahan mereka dengan membakar sepeda motor dinas yang digunakan petugas itu. Selanjutnya, sesuai prosedur hukum yang berlaku, Polres Jakarta Utara terpaksa menahan dua orang penyelamat itu dan dua orang lagi yang diduga sebagai pelaku pengeroyokan untuk dimintai keterangan. Penahanan sementara diperlukan oleh aparat keamanan guna penelitian dan pengusutan lebih lanjut serta guna penuntutan sesuai dengan hukum yang berlaku.

Rabu, 12 September 1984, sekitar pukul 19.30 WIB, di Masjid Rawabadak berlangsung ceramah agama oleh Amir Biki, Syarifin Maloko, S.H., dan M. Nasir. Para penceramah melontarkan ucapan-ucapan anti-Pancasila, anti asas tunggal, memecah persatuan dan kesatuan bangsa, serta mengganggu stabilitas nasional. Di akhir ceramahnya. Amir Biki yang dikenal masyarakat setempat sebagai tokoh agama dan tokoh masyarakat yang berpengaruh, mengajak pendengar agar ramai-ramai mendatangi polres Jakarta Utara untuk menuntut agar empat orang, yang sebenarnya hanya ditahan sementara guna dimintai keterangan, dibebaskan saat itu juga. Sekitar pukul 23.00 WIB peserta ceramah beramai-ramai mendatangi Polres Jakarta Utara, dipimpin Amir Biki yang membawa bendera hijau. Karena gerakan ini sudah tercium sebelumnya, pengamanan Polres Jakarta Utara diperkuat pasukan Laksusda Jaya. Sesampainya massa di depan Polres, terjadi perundingan antara Amir Biki dan Komandan Laksusda Jaya dan Danres (Kapolres) Jakarta Utara.

Sementara itu, para pengikut Amir Biki mulai berteriak-teriak mencaci petugas keamanan. Mereka memaksa agar empat orang temannya dibebaskan saat itu juga. Akhirnya, karena massa terus mendesak maju dan karena sakit hati dicaci maki terus menerus, petugas keamanan sebagai biasanya manusia, hilang kesabarannya. Maka tanpa dapat dicegah, sebagian petugas keamanan membidikkan senjata mereka ke arah massa. Terjadilah hal-hal yang tidak diinginkan. Sekitar 40 orang tewas tertembak saat itu juga, termasuk Amir Biki, serta puluhan lainnya mengalami luka-luka. Selanjutnya, para peserta ceramah sambil meneriakkan "Allahu Akbar" mengamuk dan membakar toko-toko milik orang Tionghoa hingga jatuh korban orang-orang Tionghoa yang mencapai 100 orang lebih.

Kamis,13 September 1984, pukul 00.00 WIB, aparat keamanan Laksusda Jaya berhasil mengendalikan situasi, menguasai keadaan, dan membubarkan massa.

Sumber: Buku Tanjung Priok Berdarah, Tanggung Jawab Siapa: Kumpulan Fakta dan Data, Yogyakarta: Gema Insani Press.


Sekarang kejadian yang sama berulang kembali, aparat dengan umat mengulang kembali sejarah itu. Maih dalam tema besar yang sama, yang berbeda hanyalah latar belakang permasalahan timbulnya konflik. Beberapa umat Islam tidak ingin makam Mbah Priok dihancurkan, tetapi disisi lain aparat memiliki landasan hukum untuk menghancurkan makam yang dianggap sakral itu. Tragedi berdarah-pun muncul kembali di 2010 korban mencapai ratusan orang, meskipun tidak sebanyak 1984. Saat umat ini kehilangan jati dirinya, bergerak tak tentu arah, dan kebingungan dengan sistem yang ada, Apakah ini sebuah rezim neo-ordebaru atau re-ordebaru?

Begitu aneh negeri ini ditengah kecacatan proses kelanjutan angket century, pelatihan teroris yang ada di Aceh, kasus gayus, mafia pajak, …………….., kesaksian Susno Duadji, dan sekarang Tragedi berdarah Tanjung Priok. Beginikah atmosfer yang diciptakan sebuah rezim yang prinsip-nya adalah membangun secara bersama? Rezim yang menciptakan ketakutan, selalu tentang kejahatan, manipulasi, dan penuh khayalan. Kemana sebuah konsep yang sudah dianggap terbaik itu????

Hati-hati umat negeri ini.. lagi-lagi kita akan siap menerima sebuah fitnah baru…

Bersiaplah umat untuk menjadi baja yang akan menahan peluru…

Semangat demi sebuah proses tarbiyah dari Tuhan kita Allah azawajalla…

Kita sadar bahwa kita adalah kesatuan yang kokoh dan utuh tak melemah atas sebuah kedzaliman hina…

Dan berlapang lah umat ketika kita akan menjadi penerima kekalahan sebelum kemenangan….


Mainstream isue yang sangat aneh???????

0 komentar:

Posting Komentar