Ahlan wa sahlan bihudurikum... mohon tinggalkan jejak anda, syukran... :)

Rabu, 14 April 2010

Pohon Bonsai

Bonsai

“.…Pohon bonsai, mungil, dilihat-pun menyenangkan dan tidak membuat bosan, pesonanya memang berbeda dengan pohon normal dan selalu menjadi pilihan bagi mereka yang mampu membelinya. Dengan biaya yang mahal untuk membuat bonsai dan tingkat perawatan yang cukup rumit untuk merawat bonsai, orang sampai rela mengorbankan apa yang dia punya demi menciptakan sebuah bonsai. Kalau di lihat dari segi manfaat bonsai kurang bermanfaat dibandingkan pohon yang besar atau pohon besar yang berbuah, tetapi bukan berarti bonsai itu tidak baik mungkin bermanfaat untuk yang mempunyai Hobi yang berkaitan dengan bonsai….”

Begitulah salah satu analogi karakteristik pembentukan da’wah islamiyah yang sering terlihat saat ini, banyak membentuk bonsai bukan membentuk sebuah pohon yang tegak besar bahkan memiliki buah. Begitu cepat ditumbuhkan, kering tanpa ada kesegaran yang bisa memberikan nafas kesegaran untuk membangkitkan. Tumbuh menjamur tanpa ada pemahaman yang mengiringinya. Ditambah lagi dengan kepentingan (hawa nafsu) beberapa pihak yang membuat jalan ini semakin pahit, yang hanya berorientasi pada ekspansi ideologi dan penambahan quantitas tanpa diiringi pembinaan untuk menumbuhkan sebuah pohon besar kokoh dan berbuah.
Ada lagi yang hanya berfokus pada paham nilai tapi tidak tahu bagaimana cara menerapkan nilai. Dan ada pula yang sengaja menebarkan keindahan sebenarnya tidak sama sekali indah di mata Allah.

Merasa tidak pernah meleset, 1 mm pun tidak.

Arena panggung dangdut-pun menjadi perayaan di malam ‘ied

Kiyai membayar santri demi nafsu-nya

TV menjadi kitab suci sehari-hari dan berusaha memahami tiap ayat chanel-nya

Syiar-nya telah mendukung Gay dan Lesbian tanpa takut akan seperti umat Luth

Dengan bangga mengatakan saya adalah pemilik surga dan kamu adalah penghuni neraka

Ketika adzan hanya dianggap sebagai sebuah kebisingan yang menjadi rutinitas

Masalah bid’ah menjadi bahan yang menarik untuk diperdebatkan diantara orang “berilmu”

Fatwa ulil amri pun tidak lagi digubris tapi terus destruktif agar tertutup dengan paksa

Pertimbangan musyawarah diambil demi keuntungan semata

Umat terus dicekoki dengan syair-syair sesat yang bermakna indah

Cakap sekali mereka menerangkan ayat Allah dengan segala kesesatannya

Sang ‘Ammah menjadi korban kejahatan yang terkemas dalam kebaikan

Semua gerakan hanya seperti mayat hidup yang bergerak tanpa punya makna sedikitpun.

Islam tidak lagi menjadi acuan utama, tetapi yang utama adalah kondisi masyarakat,
Saat umat ingin mabuk saat itu juga imam menyediakan Khamr, saat umat menuntut keadilan,
Yang ada hanyalah keadilan yang berpihak pada keuntungan sebagian pihak.

Cakupan da’wah Islam hanya dipersempit sebagai sesuatu yang terpisah dari semua urusan dunia.

Berdalih bahwa yang dilakukan adalah untuk kemaslahatan padahal untuk kedzaliman terencana.

Beginikah formula untuk menumbuhkan sebuah pohon yang bermanfaat??
Atau jangan-jangan yang ditumbuhkan selama ini adalah pohon Ghorqod??

Allah telah menjajikan akan ada lagi kebangkitan umat Islam bahkan untukmu para pecinta rasulullah, sabda Rasulullah menjelaskan lebih jelas tentang kebangkitan Umat ini.






Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang shaleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apa pun dengan Aku. Dan barang siapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik. (An-nur : 55)






حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ دَاوُدَ الطَّيَالِسِيُّ حَدَّثَنِي دَاوُدُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ الْوَاسِطِيُّ حَدَّثَنِي حَبِيبُ بْنُ سَالِمٍ عَنِ النُّعْمَانِ بْنِ بَشِيرٍ قَالَ
كُنَّا قُعُودًا فِي الْمَسْجِدِ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَكَانَ بَشِيرٌ رَجُلًا يَكُفُّ حَدِيثَهُ فَجَاءَ أَبُو ثَعْلَبَةَ الْخُشَنِيُّ فَقَالَ يَا بَشِيرُ بْنَ سَعْدٍ أَتَحْفَظُ حَدِيثَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْأُمَرَاءِ فَقَالَ حُذَيْفَةُ أَنَا أَحْفَظُ خُطْبَتَهُ فَجَلَسَ أَبُو ثَعْلَبَةَ فَقَالَ حُذَيْفَةُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَكُونُ النُّبُوَّةُ فِيكُمْ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ خِلَافَةٌ عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ فَتَكُونُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ مُلْكًا عَاضًّا فَيَكُونُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ مُلْكًا جَبْرِيَّةً فَتَكُونُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ خِلَافَةً عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ ثُمَّ سَكَتَ
قَالَ حَبِيبٌ فَلَمَّا قَامَ عُمَرُ بْنُ عَبْدِ الْعَزِيزِ وَكَانَ يَزِيدُ بْنُ النُّعْمَانِ بْنِ بَشِيرٍ فِي صَحَابَتِهِ فَكَتَبْتُ إِلَيْهِ بِهَذَا الْحَدِيثِ أُذَكِّرُهُ إِيَّاهُ فَقُلْتُ لَهُ إِنِّي أَرْجُو أَنْ يَكُونَ أَمِيرُ الْمُؤْمِنِينَ يَعْنِي عُمَرَ بَعْدَ الْمُلْكِ الْعَاضِّ وَالْجَبْرِيَّةِ فَأُدْخِلَ كِتَابِي عَلَى عُمَرَ بْنِ عَبْدِ الْعَزِيزِ فَسُرَّ بِهِ وَأَعْجَبَهُ

Dari an-Nu’man bin Basyir, beliau berkata: “Kami duduk di dalam masjid bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam (maksudnya di Masjid Nabawi) dan Basyir adalah seorang yang menjaga haditsnya. Kemudian datanglah Abu Tsa’labah al-Khusyani kemudian beliau berkata: Wahai Basyir bin Sa’ad apakah engkau hafal hadits Rasulillah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang umara’ (para pemimpin/penguasa), maka Hudzaifah berkata : Saya menghafal khutbah beliau! kemudian Abu Tsa’labah duduk maka Hudzaifah berkata: Rasulullah shallallah ‘alaihi wa sallam berkata: Ada kenabian sekarang di tengah-tengah kalian sepanjang dikehendaki ALLAH kemudian ALLAH mengangkatnya apabila Dia berkehendak untuk mengangkatnya. Kemudian akan ada khilafah di atas metode kenabian sepanjang dikehendaki ALLAH kemudian ALLAH mengangkatnya apabila Dia berkehendak untuk mengangkatnya. Kemudian akan ada kerajaan yang menggigit* (mulkan ‘aadhdhan) sepanjang dikehendaki ALLAH kemudian ALLAH mengangkatnya apabila Dia berkehendak untuk mengangkatnya. Kemudian akan ada kerajaan yang arogan (mulkan jabriyyah) sepanjang dikehendaki ALLAH kemudian ALLAH mengangkatnya apabila Dia berkehendak untuk mengangkatnya. Kemudian akan ada khilafah di atas metode kenabian kemudian beliau diam.”
Hadits ini dikeluarkan oleh:
Ahmad dalam musnadnya (No. 17680 [MS]) (14/163)
al-Baihaqi dalam Dala’il an-Nubuwwah (No. 2843 [MS])
ath-Thayalisi dalam musnadnya (No. 433 [MS])
al-Bazzar dalam musnadnya (No. 2429 [MS])



Entah bagaimana mereka yang tidak bisa memahami hal ini? Sampai-sampai ada yang terang-terangan menolak konsep khilafah… waww.. hebat…
Mimpi yang besar umat ini adalah berjaya kembali Islam di atas bumi Allah ini. Dengan segala cara yang berbeda-beda mereka mengusahakan untuk menanti dan berlomba-lomba untuk menjadi bagian dari bangkitnya lagi peradaban suci ini.

…Kebangkitan Islam bukan untuk sebuah Negara tapi untuk Sebuah Daulah…

Menjadi bagian menuju jam’atul Muslimin, tanpa nafsu ingin berkuasa dan nafsu dunia yang menyelubungi sistemnya.

“Tidak pernah ada peradaban yang berkembang tanpa dukungan struktural yang kokoh. Setiap peradaban hampir selalu melalui tiga fase besar untuk berkembang.Pertama, fase perumusan ideologi dan pemikiran; kedua, fase strukturalisasi; dan ketiga, fase perluasan (ekspansi).” (Al-Ustadz Hussain bin Muhammad bin Ali Jabir, MA, menuju jama’tul muslimin)

Bangkit-nya peradaban umat ini akan menjadi tantangan bersama dan menjadi tugas bersama kita untuk memberikan bentuk-bentuk nyata kecintaan seorang hamba kepada Allah, Rasulullah, dan Umat ini. Keberadaan kita terus terbentuk layaknya pohon besar yang terus meneduhkan, dan memberikan manfaatnya.

Tentunya pembentukan “Bonsai” tidak akan lagi menjadi trend untuk mereka yang lebih suka beramal, mereka yang cakap, mereka yang merasa tradisional, dan mereka yang banyak akal. Terlalu naif jika kerja dan usaha kita selama ini hanya dilakukan atas dasar hobi dan untuk kesenangan pribadi.
Tentunya butuh banyak pohon yang besar dan kuat untuk menjadi bagian dari bangkitnya umat ini. Pohon yang kayu-nya kuat, pohon yang menghasilkan buah-buahan manis dan segar, pohon yang besar yang tinggi menjulang untuk meneduhkan tanah yang ada di bawahnya.

“…..Bekerjasamalah untuk hal-hal yang kita sepakati, dan bertoleransilah untuk hal-hal yang tidak kita sepakati………”


Al-fakir, warnet, 16.37 - 23.21, 13 April 2010.

0 komentar:

Posting Komentar